Gambaran Wisata Desa Oro-oro Ombo

Senin, 27 April 2015
Keberadaan tempat wisata yang berada di kawasan kota Batu, disadari atau tidak pasti memberi dampak. Tanpa terkecuali untuk desa Oro-oro Ombo tempat dimana Jawa Timur Park 2 berdiri, dimana sekitar Jawa Timur Park 2 terdapat 2 obyek wisata buatan yaitu BNS (Batu Night Spectaculer) dan juga Batu Secret Zoo. Untuk bisa menikmati pemandangan alam pegunungan, seorang wisatawan bisa menyewa homestay yang banyak tersebar di kawasan kaki Gunung Panderman, Desa Oro-Oro Ombo. Untuk sewa perharinya, pemilik homestay memasang tarif mulai Rp 150 ribu hingga jutaan rupiah per malam. Sebelum terdapat tempat atau sarana wisata seperti Jatim Park 2, dahulu warga Desa Oro-oro Ombo yang hanya berdasarkan pada sektor tani dan belum ada tatanan struktur perekonomian yang memadai dalam perekonomian mereka. Keberadaan sarana dan prasarana di wilayah Desa Oro-oro Ombo kota Batu tidak dapat di pungkiri memberi dampak baik positif maupun negatif. Dampak yang dapat diamati misalnya berdiri bangunan-bangunan yang memberi jasa penginapan atau yang biasa disebut homestay, rumah makan serta jasa transportasi (ojek).
Pariwisata bukanlah suatu kegiatan yang beroperasi dalam ruang hampa. Pariwisata sangat terkait dengan masalah sosial, politik, ekonomi, keramah-tamahan, kemaanan, ketertiban, kebudayaan, kesehatan, dan seterusnya, termasuk berbagai institusi sosial yang mengaturnya. Sehingga pariwisata telah terbukti menjadi salah satu prime mover dalam perubahan sosial, budaya dan ekonomi dimana munculnya pariwisata itu sendiri bisa memberikan makna rangsangan kreatifitas tentang proses pemanfaatan segala aspek modal yang ada di masyarakat.seperti yang dikatakan oleh Muin bahwa ;
“Marine ono  jatim park mas hasil panen jagungku sing biasane tak dol nang pasar kene saiki tak ganti, aku buka usaha dewe jagung manis, hasile oleh luweh akeh ketimbang aku dodolan nang pasar sak porsi jagung ngene tak dol 5ewu,lek nang pasar aku ngedole kiloan”
Terjemahan: Semenjak adanya jatim park 2 hasil panen jagung saya  yang biasanya saya jual di pasar sekarang sudah saya ganti, saya buka usaha sendiri yaitu jagung manis, penghasilan yang saya dapatkan lebih banyak daripada saya berjualan di pasar, satu porsi jagung saya jual sebesar lima ribu rupiah, kalau dipasar saya jualnya kiloan.

Gambar 3. Penjual Jagung Manis dan Penjaga Home Stay ( Muin)




            Pernyataan diatas menggambarkan bahwa pariwisata di Desa Oro-Oro Ombo sendiri telah berhasil memberikan peningkatan kreatifitas penduduk dalam menjual hasil bumi mereka sehingga nantinya pariwisata itu sendiri ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekitar. Pariwisata menjadi penting dalam pengembangan ekonomi, karena kegiatannya mendorong perkembangan dalam sektor perubahan sosial ekonomi masyarakat misalnya meningkatkan urbanisasi karena pertumbuhan pembangunan dan pembaharuan fasilitas wisata serta meningkatkan kreatifitas masyarakat untuk meningkatkan pendapatan. 
Peningkatan ekonomi masyarakat yang tumbuh begitu pesat di Desa Oro-Oro Ombo tidak lepas dari banyaknya kebutuhan wisata yang sangat dibutuhkan para wisatawan. Sehingga besar peluang masyarakat dalam menyikapi kesempatan ini misalnya, para wisatawan yang membutuhksn tempat penginapan sementara dan masyarakat atau pemerintahan daerah setempat menyediakan tempat yang siap untuk disewakan seperti homestay dan villa. Disamping itu juga masyarakat menyediakan sarana prasarana wisata seperti cinderamata, ojek, warung makan dan kebutuhan lainya. Usaha keras yang dilakukan oleh masyarakat demi meningkatkan kehidupan sosial ekonomi, sehingga pendapatan masyarakat bisa bertambah yang semula penghasilannya hanya berasal dari pertanian dengan sekali panen hanya bisa menghasilkan sebesar kisaran Rp.600.000-Rp.800.000,- dan tidak didapatkan tiap bulannya. Sedang setelah dibangunnya sarana rekreasi Jatim Park 2 masyarakat sekitar yang usahanya terkait dengan tempat pariwisata ini rata-rata bisa mendapat penghasilan bersih kurang lebih sekitar Rp. 1.500.000-,. Seperti yang diungkapkan ibu Basir 50 tahun Pedagang Bakso:
“aku biyen tani mas, lha mulai enek nggon rekreasi iki aku mulai jajal dodolan bakso. Aku dodolan bakso nang iki lak tak sawang luweh ngaselne dari pada ndisek pas dadi buruh tani. Biyen panen olehe cuma 600 ewu sampe 800 ewu iku pun kadang 3 ulan spisan. Saiki lak arep buruh tani yo tenogo mulai kurang, sejene ngono seng di tokne gawe bibit, pupuk lan liyo-liyane gak nyucuk karo rego sing di oleh pas panen.”
Terjemahan: “saya dulu jadi petani mas, lha ketika ada tempat  rekreasi ini saya mulai mencoba jualan bakso. Saya jualan bakso ini kalau saya lihat lebih menghasilkan dari pada dulu saat  tani. Dulu hasil panen yang saya dapatkan Cuma sekitar 600 ribu sampai 800 ribu itu pun terkadang 3 bulan sekali. Sekarang kalau tani ya tenaga mulai kurang, selain itu pengeluaran untuk bibit, pupuk dan yang lain tidak seimbang dengan hasil panen.

Pendapatan masyarakat dengan penghasilan perdaganganya yang semakin lebih baik dan mendapatkan hasil yang berlebih ketika hari-hari liburan. Sehingga dibandingkan dengan hasil penen yang 3 bulan sekali panen, maka dengan hasil berdagang lebih sangat menguntungkan. Maka dengan hasil berdaganganya yang menguntungkan itu masyarakat mulai memenuhi kebutuhan yang lebih banyak dan bekualitas baik kebutuhan primer maupun sekunder, sehingga bisa menjadi indikator masyrakat lebih cerdas mengatur dalam perekonomian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar